MAKALAH
“KONSEP
MANUSIA DALAM ISLAM”
Mata
Kuliah: Pendidikan Agama
Dosen:
Dra. Hj. Rafi’ah Ghazali, M. Ag.
DISUSN
OLEH:
Kelompok
3
Ade
Ferihan (1610116310002)
Fermansyah
(1610116310010)
Muzdalifah
(1610116320023)
Kelas
Reg B
PRODI
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
LAMBUNG MANGKURAT
2016
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT
atas segala rahmat, taufik, dan hidayahnya yang telah dilimpahkan kepada kami,
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.
Ucapan terima kasih sebesar-besarnya kami sampaikan
kepada semua pihak terutama teman-teman yang telah membantu baik moril maupun
spiritual sehingga penyusunan makalah ini dapat berjalan dengan lancar dan
baik.
Juga ucapan terima kasih kami sampaikan kepada yang
terhormat Ibu Dra. Hj. Rafi’ah Ghazali, M. Ag. selaku dosen bidang studi
Pendidikan Agama yang telah memberikan pengarahan dan bimbingan dalam
penyusunan makalah ini.
Dengan segala kerendahan hati, kami berharap semoga
makalah ini dapat bermanfaat dalam upaya meningkatkan prestasi.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat menjadi amal
ibadah kami dalam mengemban amanah Allah SWT. Aamiin.
DAFTAR
ISI
Halaman
JUDUL MAKALAH
............................................................................................. i
KATA PENGANTAR
........................................................................................... ii
DAFTAR ISI
......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar
Belakang
................................................................................................ 1
1.2 Rumusan
Masalah .......................................................................................... 1
1.3 Tujuan
............................................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN
...................................................................................... 2
2.1 Pengertian
Manusia
........................................................................................ 2
2.2 Hakikat
Manusia
............................................................................................ 3
2.3 Pengertian
Islam
............................................................................................ 3
2.4 Konsep
Manusia Dalam Islam
....................................................................... 4
2.5 Peran dan
Tanggung Jawab Manusia dalam Islam ........................................ 6
BAB III PENUTUP
.............................................................................................. 8
3.1 Kesimpulan
.................................................................................................... 8
3.2 Kritik
............................................................................................................. 9
3.3 Saran
............................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk
yang sangat menarik. Oleh karena itu, manusia sering menjadi perbincangan di
berbagai kalangan. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia,
karya, dan dampak dari karya-karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat, dan
lingkungan tempat tinggalnya. Indonesia merupakan negara yang religius dan
memiliki toleransi yang tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya agama yang
berkembang di Indonesia dan rukunnya kehidupan antarumat berbeda agama di
Indonesia. Islam adalah salah satu agama yang berkembang di Indonesia dan
mayoritas penduduk Indonesia merupakan pemeluk agama Islam. Islam mengajarkan
umatnya untuk saling berbagi dan menyayangi satu sama lain, membantu siapapun
yang memerlukan bantuan termasuk umat beda agama. Di mata Alloh SWT, semua
manusia adalah sama. Amal dan ibadahnyalah yang membedakan derajat seorang manusia
dengan manusia lain. Alasan tersebutlah yang membuat penulis merasa tertarik
untuk mengkaji lebih dalam mengenai konsep manusia menurut Islam. Selain alasan
tersebut, yang melatarbelakangi penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
1.2 Rumusan Masalah
Untuk mengkaji dan
mengulas konsep manusia dalam Islam, maka diperlukan subpokok bahasan yang
saling berhubungan. Oleh karena hal tersebut, penulis membatasi rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan manusia?
2. Apa yang dimaksud dengan Islam?
4. Apa fungsi dan tanggung jawab manusia dalam
Islam?
5. Bagaimanakah hubungan agama dengan manusia?
6. Bagaimana konsep Agama?
7. Bagaimana Konsep manusia dalam Islam?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan makalah
ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam dan menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang tertera pada rumusan masalah.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia
berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir,
berakal budi atau makhluk yang mampu menguasai makhluk lain. Secara istilah
manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau
realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu. Secara biologi,
manusia diartikan sebagai sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang
dilengkapi otak berkemampuan tinggi.
Dalam Al-Quran manusia
dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain al-insaan, al-naas, al-abd, bani
adam, dan sebagainya. Al-insaan berarti suka, senang, jinak, ramah, atau
makhluk yang sering lupa. Al-naas berarti manusia (jama’). Al-abd berarti
manusia sebagai hamba Allah. Bani adam berarti anak-anak Adam karena berasal
dari keturunan Nabi Adam.
Namun dalam Al-Quran dan
Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling mulia dan
memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk kebenaran dalam menjalani
kehidupan di dunia dan akhirat.
Pengertian manusia
menurut para ahli
NICOLAUS
D. & A. SUDIARJA
Manusia adalah bhineka,
tetapi tunggal. Bhineka karena ia adalah jasmani dan rohani akan tetapi tunggal
karena jasmani dan rohani merupakan satu barang.
ABINENO
J. I.
Manusia adalah
"tubuh yang berjiwa" dan bukan "jiwa abadi yang berada atau yang
terbungkus dalam tubuh yang fana".
UPANISADS
Manusia adalah kombinasi
dari unsur-unsur roh (atman), jiwa, pikiran, dan prana atau badan fisik.
I
WAYAN WATRA
Manusia adalah mahluk
yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa, dan karsa.
OMAR
MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY
Manusia adalah mahluk
yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia adalah
mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam
pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.
ERBE
SENTANU
Manusia adalah mahluk
sebaik-baik ciptaan-Nya. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan
Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain.
PAULA
J. C. & JANET W. K.
Manusia adalah mahluk
terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas
keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan
unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinanan.
2.2 Hakikat Manusia
Menurut Prof. Noto
Nagoro, manusia adalah monodualisme. Dikatakan monodualisme karena manusia
terdiri atas: raga dan jiwa, individu dan sosial, pribadi dan makhluk Tuhan.
1. Manusia sebagai
makhluk yang memiliki raga dan jiwa
Manusia mempunyai unsur
raga dan jiwa yang merupakan kesatuan, sehingga apabila raga sudah berpisah
dengan jiwa maka sudah bukan lagi manusia, melainkan mayat. Dengan adanya unsur
raga ini, manusia memiliki sifat-sifat sebagaimana halnya makhluk lain dan
benda-benda lain yang mempunyai raga. Dengan raga ini maka manusia memiliki
sifat-sifat seperti yang dimiliki oleh hewan, tumbuhan, dan benda lain.
Persamaan hewan dengan manusia, misalnya rasa sakit, lapar, haus, takut, dan
kemampuan berkembang biak.
Jiwa manusia terdiri
atasunsur-unsur cipta, rasa, dan karsa. Cipta adalah unsur kejiwaan manusia
yang dapat membedakan benar dan salah. Rasa adalah unsur kejiwaan yang manusia
yang dapat membedakan yang indah dan yang tidak indah, susah dan senang, enak
dan tidak enak, dan lain sebagainya. Sedangkan karsa adalah unsur kejiwaan
manusia yang dapat membedakan antara baik dan buruk.
2. Manusia sebagai
makhluk individu dan sosial
Manusia sebagai makhluk
individu dan sosial berarti bahwa manusia tidak pernah hidup sendiri, melainkan
juga hidup berkelompok. Sebagai makhluk individu dan sosial hendaknya manusia
saling menghargai dan menghormati. Artinya, individu harus menghargai dan
menghormati kelompok, sebaliknya kelompok harus menghargai dan menghormati
individu. Dalam memenuhi kebutuhannya, individu tidak boleh mengabaikan
kepentingan kelompok begitu pula sebaliknya.
3. Manusia sebagai
makhluk pribadi dan makhluk Tuhan
Manusia sebagai makhluk
pribadi yang berdiri sendiri dan makhluk Tuhan. Hal ini mengandung arti bahwa
manusia memiliki kemampuan-kemampuan yang dapat berkembang untuk selanjutnya
dapat merencanakan sesuatu, membudayakan alam semesta, atau mengolah alam untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, segala usaha manusia tidak akan pernah
berhasil dengan kekuatan manusia itu sendiri. Ada suatu kekuatan di atas
manusia yang ikut menentukan keberhasilan usaha manusia, yaitu kekuatan Tuhan.
2.3 Pengertian Islam
Islam adalah berserah
diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas
diri dari perbuatan syirik dan pelakunya. Barangsiapa yang berserah diri kepada
Allah saja, maka dia adalah seorang muslim. Dan barang siapa yang berserah diri
kepada Allah dan yang lainnya, maka dia adalah seorang musyrik. Dan barangsiapa
yang tidak berserah diri kepada Allah, maka dia seorang kafir yang sombong.
2.4 Konsep Manusia Dalam Islam
Konsep Manusia dalam
Islam
1. Pengertian Manusia
dalam Alqur’an
Quraish Shihab mengutip
dari Alexis Carrel dalam “Man the Unknown”, bahwa banyak kesukaran yang
dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia, karena keterbatasan-keterbatasan
manusia sendiri.
Istilah kunci yang digunakan
Al-Qur’an untuk menunjuk pada pengertian manusia menggunakan kata-kata basyar,
al-insan, dan an-nas.
Kata basyar disebut dalam
Al-Qur’an 27 kali. Kata basyar menunjuk pada pengertian manusia sebagai makhluk
biologis (QS Ali ‘Imran [3]:47) tegasnya memberi pengertian kepada sifat
biologis manusia, seperti makan, minum, hubungan seksual dan lain-lain.
Kata al-insan dituturkan
sampai 65 kali dalamAl-Qur’an yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori.
Pertama al-insan dihubungkan dengan khalifah sebagai penanggung amanah (QS
Al-Ahzab [3]:72), kedua al-insan dihubungankan dengan predisposisi negatif
dalam diri manusia misalnya sifat keluh kesah, kikir (QS Al-Ma’arij [70]:19-21)
dan ketiga al-insan dihubungkan dengan proses penciptaannya yang terdiri dari unsur
materi dan nonmateri (QS Al-Hijr [15]:28-29). Semua konteks al-insan ini
menunjuk pada sifat-sifat manusia psikologis dan spiritual.
Kata an-nas yang disebut
sebanyak 240 dalam Al-Qur’an mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial
dengan karateristik tertentu misalnya mereka mengaku beriman padahal sebenarnya
tidak (QS Al-Baqarah [2]:8).[1]
Dari uraian ketiga makna
untuk manusia tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia adalah mahkluk
biologis, psikologis dan sosial. Ketiganya harus dikembangkan dan diperhatikan
hak maupun kewajibannya secara seimbang dan selalu berada dalam hukum-hukum
yang berlaku (sunnatullah).[2]
Al-Qur’an memandang
manusia sebagaimana fitrahnya yang suci dan mulia, bukan sebagai manusia yang
kotor dan penuh dosa. Peristiwa yang menimpa Nabi Adam sebagai cikal bakal
manusia, yang melakukan dosa dengan melanggar larangan Tuhan, mengakibatkan
Adam dan istrinya diturunkan dari surga, tidak bisa dijadikan argumen bahwa
manusia pada hakikatnya adalah pembawa dosa turunan. Al-Quran justru memuliakan
manusia sebagai makhluk surgawi yang sedang dalam perjalanan menuju suatu
kehidupan spiritual yang suci dan abadi di negeri akhirat, meski dia harus
melewati rintangan dan cobaan dengan beban dosa saat melakukan kesalahan di
dalam hidupnya di dunia ini. Bahkan manusia diisyaratkan sebagai makhluk
spiritual yang sifat aslinya adalah berpembawaan baik (positif, haniif).
Karena itu, kualitas,
hakikat, fitrah, kesejatian manusia adalah baik, benar, dan indah. Tidak ada
makhluk di dunia ini yang memiliki kualitas dan kesejatian semulia itu.
Sungguhpun demikian, harus diakui bahwa kualitas dan hakikat baik benar dan
indah itu selalu mengisyaratkan dilema-dilema dalam proses pencapaiannya.
Artinya, hal tersebut mengisyaratkan sebuah proses perjuangan yang amat berat
untuk bisa menyandang predikat seagung itu. Sebab didalam hidup manusia selalu
dihadapkan pada dua tantangan moral yang saling mengalahkan satu sama lain.
Karena itu, kualitas sebaliknya yaitu buruk, salah, dan jelek selalu menjadi
batu sandungan bagi manusia untuk meraih prestasi sebagai manusia berkualitas
mutaqqin di atas.
Gambaran al-Qur’an
tentang kualitas dan hakikat manusia di atas megingatkan kita pada teori
superego yang dikemukakan oleh sigmund Freud, seorang ahli psikoanalisa kenamaan
yang pendapatnya banyak dijadika rujukan tatkala orang berbicara tentang
kualitas jiwa manusia.
Menurut Freud, superego
selalu mendampingi ego. Jika ego yang mempunyai berbagai tenaga pendorong yang
sangat kuat dan vital (libido bitalis), sehingga penyaluran dorongan ego (nafsu
lawwamah/nafsu buruk) tidak mudah menempuh jalan melalui superego (nafsu
muthmainnah/nafsu baik). Karena superego (nafsu muthmainnah) berfungsi sebagai
badan sensor atau pengendali ego manusia. Sebaliknya, superego pun sewaktu-waktu
bisa memberikan justifikasi terhadap ego manakala instink, intuisi, dan
intelegensi –ditambah dengan petunjuk wahyu bagi orang beragama– bekerja secara
matang dan integral. Artinya superego bisa memberikan pembenaran pada ego
manakala ego bekerja ke arah yang positif. Ego yang liar dan tak terkendali
adalah ego yang negatif, ego yang merusak kualitas dan hakikat manusia itu
sendiri.
2. Tujuan Penciptaan
Manusia
Kata “Abdi” berasal dari kata bahasa Arab yang artinya
“memperhambakan diri”, ibadah (mengabdi/memperhambakan diri). Manusia
diciptakan oleh Allah agar ia beribadah kepada-Nya. Pengertian ibadah di sini
tidak sesempit pengertian ibadah yang dianut oleh masyarakat pada umumnya,
yakni kalimat syahadat, shalat, puasa, zakat, dan haji tetapi seluas pengertian
yang dikandung oleh kata memperhambakan dirinya sebagai hamba Allah. Berbuat sesuai dengan kehendak dan
kesukaann (ridha) Nya dan menjauhi apa yang menjadi larangan-Nya.[3]
3. Fungsi dan Kedudukan
Manusia
Sebagai orang yang
beriman kepada Allah, segala pernyataan yang keluar dari mulut tentunya dapat
tersingkap dengan jelas dan lugas lewat kitab suci Al-Qur’an sebagai satu kitab
yang abadi. Dia menjelaskan bahwa Allah menjadikan manusia itu agar ia menjadi
khalifah (pemimpin) di atas bumi ini dan kedudukan ini sudah tampak jelas pada
diri Adam (QS Al-An’am [6]:165 dan QS Al-Baqarah [2]:30) di sisi Allah
menganugerahkan kepada manusia segala yang ada dibumi, semula itu untuk
kepentingan manusia (ia menciptakan untukmu seluruh apa yang ada dibumi ini. QS
Al-Baqarah [2]:29). Maka sebagai tanggung jawab kekhalifahan dan tugas utama
umat manusia sebagai makhluk Allah, ia harus selalu menghambakan dirinyakepada
Allah Swt.
Untuk mempertahankan
posisi manusia tersebut, Tuhan menjadikan alam ini lebih rendah martabatnya
daripada manusia. Oleh karena itu,
manusia diarahkan Tuhan agar tidak tunduk kepada alam, gejala alam (QS
Al-Jatsiah [45]:13) melainkan hanya tunduk kepada-Nya saja sebagai hamba Allah
(QS Al-Dzarait [51]:56). Manusia harus menaklukanya, dengan kata lain manusia
harus membebaskan dirinya dari mensakralkan atau menuhankan alam.
Jadi dari uraian tersebut
diatas bisa ditarik kesimpulan secara singkat bahwa manusia hakikatnya adalah
makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki dua predikat statusnya
dihadapan Allah sebagai Hamba Allah (QS Al-Dzarait [51]:56) dan fungsinya
didunia sebagai khalifah Allah (QS Al-Baqarah [2]:30); al-An’am [6]:165),
mengantur alam dan mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan kehidupan manusia
itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh kepada sunnatullah.
4. Hakekat Manusia
Menurut Al-Qur’an
Hakekat manusia adalah
sebagai berikut :
a) Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang
dapat menggerakkan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b) Individu yang memiliki sifat rasional
yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial.yang mampu
mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol
dirinya serta mampu menentukan nasibnya.
c) Makhluk yang dalam proses menjadi
berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya.
d) Individu yang dalam hidupnya selalu
melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang
lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati
e) Suatu keberadaan yang berpotensi yang
perwujudanya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas
f) Makhluk Tuhan yang berarti ia adalah
makhluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat.
g) ndividu yang sangat dipengaruhi oleh
lingkungan turutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai
dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.
h) Makhluk yang berfikir. Berfikir adalah
bertanya, bertanya berarti mencari jawaban, mencari jawaban berarti mencari
kebenaran.
5. Hakekat Manusia
(Menurut Islam - Mohammad Sholihuddin, M.HI)
Manusia terdiri dari
sekumpulan organ tubuh, zat kimia, dan unsur biologis yang semuanya itu terdiri
dari zat dan materi Secara Spiritual manusia adalah roh atau jiwa. Secara
Dualisme manusia terdiri dari dua subtansi, yaitu jasmani dann ruhani (Jasad
dan roh). Potensi dasar manusia menurut jasmani ialah kemampuan untuk bergerak
dalam ruang yang bagaimanapun, di darat, laut maupun udara. Dan jika dari Ruhani,
manusia mempunyai akal dan hati untuk berfikir (kognitif), rasa (affektif), dan
perilaku (psikomotorik). Manusia diciptakan dengan untuk mempunyai
kecerdasan.[5]
2.5 Peran dan Tanggung Jawab Manusia dalam
Islam
Manusia diserahi tugas
hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di
hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas
kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta
pengelolaan dan pemeliharaan alam.
Khalifah berarti wakil
atau pengganti yang memegang mandat Allah untuk mewujudkan kemakmuran di muka
bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang
memungkinkan dirinya serta mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk
kepentingan hidupnya.
Kekuasaan manusia sebagai
wakil Allah dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketentuan yang telah
digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Allah baik yang tertulis
dalam kitab suci (al-Qur’an), maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta
(al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah
wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya, serta mengkhianati kepercayaan
yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia diminta pertanggungjawaban terhadap
penggunaan kewenangannya di hadapan yang diwakilinya.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah pengkajian
mengenai Konsep Manusia dalam Islam yang telah penulis paparkan sebelumnya,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Manusia adalah makhluk
yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk
kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
2. Manusia dikatakan
makhluk monodualisme karena manusia terdiri atas: raga dan jiwa, individu dan
sosial, pribadi dan makhluk Tuhan.
3. Islam adalah berserah
diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk kepada-Nya dengan taat dan berlepas
diri dari perbuatan syirik dan pelakunya.
4. Manusia dalam
pandangan Islam terdiri atas dua unsur, yakni jasmani dan rohani. Jasmani
manusia bersifat materi yang berasal dari unsur-unsur saripati tanah. Sedangkan
roh manusia merupakan substansi immateri berupa ruh. Ruh yang bersifat immateri
itu ada dua daya, yaitu daya pikir (akal) yang bersifat di otak, serta daya
rasa (kalbu). Keduanya merupakan substansi dari roh manusia.
5. Manusia diserahi tugas
hidup yang merupakan amanat Allah dan harus dipertanggungjawabkan di
hadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas
kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan
dan pemeliharaan alam.
6. Manusia hakikatnya
adalah makhluk biologis, psikolsogi dan sosial yang memiliki dua predikat
statusnya dihadapan Allah sebagai Hamba Allah dan fungsinya didunia sebagai
khalifah Allah, mengantur alam dan mengelolanya untuk mencapai kesejahteraan
kehidupan manusia itu sendiri dalam masyarakat dengan tetap tunduk dan patuh
kepada sunnatullah. Rasa agama dan perilaku keagamaan (agama dan kehidupan
beragama) merupakan pembawaan dari kehidupan manusia, atau dengan istilah lain
merupakan “fitrah” manusia.
Manusia tidak akan pernah
lepas dari agama karena dalam diri manusia ada fitrah. Fitrah keagamaan yang
ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada
agama. Faktor lain yang melatarbelakangi manusia memerlukan agama adalah karena
di samping manusia memiliki berbagai kesempurnaan juga memiliki kekurangan, dan
Faktor lain yang menyebabkan manusia memerlukan agama adalah karena manusia
dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik yang datang
dari dalam maupun dari luar.
3.2 Kritik
Dalam kehidupan
sehari-hari sering kali kita lupa akan hakikat manusia sebagai makhluk Tuhan
sehingga kita melalaikan ajaran-ajaran agam kita sebagai penuntun bagi kita
dalam menjalani kehidupan. Melalui makalah ini penulis berharap agar semua
pihak yang terkait menyadari kedudukannya sebagai makhluk Tuhan dan tidak
melalaikan ajaran agama yang mereka anut lagi.
3.3 Saran
Setelah membaca dan
mempelajari makalah ini, besar harapan penulis para pembaca mendapat tambahan
pengetahuan mengenai konsep manusia dalam Islam dan dapat mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari agar dapat menjadi seorang manusia yang bersyukur
akan anugerah yang diberikan oleh Alloh SWT. Demikian makalah yang dapat kami paparkan tentang
hukum syar’i, semoga bermanfa’at bagi pembaca pada umumnya dan pada kami pada
khususnya. Dan tentunya makalah ini
tidak lepas dari kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang bersifat
konstruktif sangat kami butuhkan, guna memperbaiki makalah selanjutnya.